AI Ganti Permainan: Perusahaan Kini Harus Tangani Reskilling Sendiri

Business178 Views

Dulu, banyak orang berbondong-bondong ikut kursus coding karena dijanjikan karir di tech yang cerah. Tapi sekarang, dengan kemajuan AI, situasinya berubah total. Era ‘learn to code’ sepertinya sudah lewat, dan tanggung jawab reskilling bergeser ke pundak perusahaan.

AI seperti tools coding otomatis membuat pekerjaan entry-level di bidang pemrograman jadi lebih sedikit. Banyak perusahaan mulai sadar bahwa merekrut orang baru lalu melatihnya dari nol bukan lagi strategi terbaik. Sebaliknya, mereka lebih memilih meng-upgrade skill karyawan yang sudah ada.

Salah satu pelajaran penting dari dekade sebelumnya adalah bagaimana bootcamp coding sempat meledak popularitasnya. Ribuan orang berhasil masuk ke industri tech berkat program intensif itu. Namun, banyak yang kemudian kesulitan karena skill dasar saja tidak cukup menghadapi perubahan cepat teknologi.

Dampaknya, perusahaan kini harus lebih proaktif. Mereka bisa mulai dengan program internal training yang fokus pada penggunaan AI tools sehari-hari. Ini bukan hanya soal coding, tapi juga problem-solving dan adaptasi terhadap workflow baru yang dibantu AI.

Selain itu, ada konteks soal retensi karyawan. Karyawan yang merasa perusahaan peduli dengan pengembangan skill mereka cenderung lebih loyal. Di tengah kompetisi talent yang ketat, reskilling internal bisa jadi cara efektif untuk menjaga tim tetap solid tanpa harus terus merekrut dari luar.

Perubahan ini juga membuka peluang baru bagi role yang sebelumnya kurang populer, seperti AI ethics atau data governance. Perusahaan yang cepat beradaptasi dengan memberikan pelatihan di area ini akan punya keunggulan.

Secara keseluruhan, industri tech harus belajar dari pengalaman masa lalu. Bukan lagi soal mendorong orang belajar coding secara massal, melainkan membangun ekosistem di mana reskilling menjadi bagian rutin dari operasional perusahaan.